Saturday, August 14, 2010

Menderita dulu baru Bahagia? nggak lagi deh ...

"bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian..." masih pantaskah digunakan??? 

Sewaktu kecil mungkin anda dan saya sering dibacakan sebuah cerita atau dongeng oleh orang tua sebagai pengisi waktu luang sampai pengantar tidur. Yah, sebut saja cinderella, putri aurora, bawang merah bawang putih, si kancil, dll. Pembawaan yang ekspresif seringkali membuat anda seakan benar-benar tenggelam dalam imajinasi cerita yang dibuat. Tapi tahukah anda, kekuatan sebuah dongeng tidak hanya membuat anda menjadi tertidur, melainkan dapat menentukan sikap dan kehidupan anda saat ini. Bagaimana mungkin?


Oke, saya yakin semua dongeng yang dibacakan orang tua untuk anda memiliki nilai-nilai moral yang baik seperti penanaman sifat pantang menyerah, setia, rela berkorban, dan sifat positif lainnya. Tetapi jika anda cermati lebih dalam lagi ternyata cerita-cerita dalam dongeng tersebut memiliki alur yang hampir sama, selalu dimulai dengan kesedihan dan penderitaan, tersiksa baru nanti bahagia dengan menikahi seorang pangeran, atau menjadi permaisuri atau apapun itu yang membuat statusnya meningkat dan tidak menderita lagi. 

Mungkin buat kita yang sudah mampu mengoperasikan pikiran logis secara optimal, itu bukan jadi masalah, tapi bagaimana dengan anak-anak yang sering menjadi subjek untuk dijejali dongeng tersebut?

Sebelumnya saya jelaskan sedikit bahwa aktivitas otak anak-anak pada dasarnya dominan bekerja di gelombang alfa, sebuah kondisi rileks dimana semua sugesti dan informasi bisa langsung diserap tanpa melalui proses analisis sama sekali dan pada masa ini critical area seseorang belum berfungsi. Nah, ketika membaca atau dibacakan dongeng anak sangat menghayati sehingga masuk kondisi terdalam alfa yang akhirnya menjadi memori jangka pendek. Hal itu kemudian diperkuat dengan adanya repetisi/pengulangan dengan seringnya membaca kisah-kisah sejenis dan anda pasti tahu bagaimana hukum pikiran jika sesuatu diulang secara terus menerus. Yap, betul sekali, akan langsung masuk ke memori jangka panjang yang otomatis menjadi BELIEVE atau KEPERCAYAAN.

Lalu masalahnya..???

Dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan anak-anak dalam menangkap pesan yang disampaikan di dongeng, anak bisa saja mempersepsikan bahwa kita harus Menderita Dulu Baru Bahagia.
Anak tidak akan menangkap pesan pantang menyerah, selalu bersyukur, selalu ada teman di kala susah dll. Yang ditangkap anak bisa jadi  adalah Menderita Dulu Baru Bahagia karena memang yang diceritakan seperti itu adanya. Inilah yang kemudian menjadi believe dan dibawa terus hingga dia dewasa.

Pertanyaan saya...memangnya kita perlu bersusah-susah dulu baru bisa bahagia? Apakah tidak bisa langsung bahagia?  Bukankah pada dasarnya kebahagiaan adalah suatu pilihan? bagaimana cara kita menghadapi suatu permasalahan dan menyelesaikannya?  Jika kita memilih untuk BAHAGIA, kita pasti BAHAGIA kok apapun kondisi kita. Namun apabila di pikiran bawah sadar mempunyai kepercayaan yang salah, maka kita akan susah untuk bahagia. (nah loh, kalau sekarang anda merasa susah bahagia, anda sudah tahu kan sebabnya)

Banyak orang tua yang menanggapi ini sebagai hal sepele, menganggap bahwa anak-anak masih kecil, membiarkan informasi masuk secara sporadis tanpa disaring terlebih dahulu. Padahal masa anak-anak itulah pembentukan karakter dimulai, saat-saat trust-mistrust ditanamkan.
Berhati-hatilah dengan apapun yang anda ucapkan kepada anak-anak, karena bisa jadi anda menjadi orang paling jahat yang meracuni pikiran dan membuat seorang anak tidak bisa hidup bahagia kelak. Sebelum terlambat, mulailah isi hari-hari anda dan keluarga dengan kisah-kisah penuh semangat untuk terus berjuang dengan perasaan yang bahagia.

Mulai sekarang gunakan pepatah bersenang-senang dahulu, bersenang-senang kemudian...


Bahagia milik anda yang mempercayainya...
Bahagia adalah pilihan...
Jika anda ingin hidup bahagia, maka..... berbahagialah.

0 komentar:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More