Dalam suasana perkenalan murid baru di sekolah, seorang guru menanyakan pekerjaan orang tua masing-masing anak didiknya untuk diambil sebagai data.
Beberapa murid ada yang dengan lantang menyebutkan pekerjaan orang tuanya dan tidak jarang yang malu-malu sambil menundukkan kepalanya. “bapak saya seorang dokter!”, teriak seorang anak di barisan depan sambil mengacungkan tangannya. “bapak saya lebih hebat, dia seorang hakim!”. Begitupun suara sahut-sahutan dari mereka yang bangga akan pekerjaan bapaknya. Seakan tidak ada yang mau kalah satu sama lain, mereka saling mengeraskan suaranya hingga seisi kelas menjadi sangat berisik. Yang pekerjaannya hanya sebagai staf administrasi atau sales tidak begitu berminat untuk ikut berteriak
Lalu kemudian si guru ini berusaha menenangkan keadaan dan menanyakan murid terakhir yang sedari tadi diam tertunduk di bangku pojok paling belakang. “nak, pekerjaan orang tuamu apa?”, tanya guru ini.
Tampak jelas keraguan di muka anak tersebut, namun tak begitu lama si anak menjawab, “tukang batu, bu”.Seisi kelas yang mendengar jawaban tersebut kemudian tertawa sejadi-jadinya dan sejak saat itu, teman-temannya tidak pernah berhenti mencela dan meremehkan anak tersebut. Tidak sedikit pula yang enggan diajak berbicara olehnya. Anak ini kemudian berpikir kenapa orang tuaku menjadi seorang tukang batu, apa salahku Tuhan??. kenapa bukan orang lain? kenapa harus aku?
Merasa bahwa ini terlalu sakit, si anak kemudian lapor ke ibunya. Dia marah atas apa yang telah terjadi. Dia tidak terima, berencana pergi dari rumah dan tidak sekolah lagi. Bahkan menyumpah tidak mau mengakui bapaknya jika tidak segera mengganti pekerjaan. Dia merasa bahwa sakit hatinya mendengar cemoohan teman-temannya.
Sang ibu dengan penuh kasih sayang kemudian menjelaskan, “nak, coba lihat kesana.. gedung bertingkat yang ada di seberang rumah kita, rumah sakit terbesar di kota ini, rumah makan padang yang begitu indah di malam hari. Apakah kamu tahu siapa yang ada di balik berdirinya semua bangunan itu?”, tanya ibunya. “ya pemiliknya bu”, jawab si anak ketus.
Ya memang, bangunan itu ada karena pemilik modal menanamkan uangnya disana, tapi apakah semua itu bisa berdiri jika tidak ada orang-orang seperti bapakmu? Yang harus memecah batu untuk dijadikan pondasinya, rela kotor badannya untuk membuat bangunan tersebut kokoh hingga saat ini, terancam nyawanya untuk membuat bangunan tersebut begitu indah?
Anakku, dibalik kokohnya gedung yang kamu lihat, megahnya rumah sakit, dan indahnya restoran itu, disana terdapat tetesan keringat dan sidik jari bapakmu. Bapakmu memiliki jasa dan bangunan tersebut menjadi saksi atas perjuangannya untuk membesarkan dan menyekolahkanmu hingga detik ini. Anakku, memang itulah adanya bapakmu tapi ketauhilah… satu hal yang pasti dia sangat menyayangimu. Jika kamu masih malu dan berpikir untuk pergi dari rumah ini, ibu tidak bisa lagi menghambatmu. Semua terserah kamu.
Mendengar penjelasan tersebut, si anak kemudian bersujud kepada ibunya dan meminta maaf sambil menangis. Bapaknya yang sedari tadi mendengar dan melihat kejadian itu kemudian menghampiri mereka berdua dan memeluknya. Si anak mengungkapkan penyesalan sedalam-dalamnya atas pikiran negatif selama ini kepada bapaknya dan dia berjanji akan terus belajar agar kehidupan keluarganya menjadi lebih baik dari sekarang. Dalam hatinya dia berkata, bapakku bisa bekerja dengan baik, kenapa aku harus malu. Sejak saat itu, dia sangat bangga akan bapaknya dan tidak pernah ragu lagi untuk mengatakan bahwa bapaknya adalah seorang TUKANG BATU.
Saudara, apapun profesi dan pekerjaan anda, lakukan dengan penuh suka cita dan rasa bangga seperti kata Martin Luther King. Jika seseorang terpanggil menjadi penyapu jalan, dia harus melaksanakan pekerjaannya sama seperti Michelangelo melukis, Beethoven mengarang lagu, atau Shakespeare menulis puisi. Dia harus menyapu jalan dengan begitu bersih sehingga seluruh penghuni surga di dunia berkata, “disini hidup seorang penyapu jalan yang agung, yang menyelesaikan pekerjaannya dengan baik
Banggalah dengan pekerjaan anda saat ini, apapun itu yang penting halal. Hargai diri anda sebaik-baiknya karena dunia tidak menuntut anda untuk menjadi seorang arsitek ternama, presiden, politikus, ilmuwan, dokter, atau seorang pengusaha. Dunia hanya menuntut anda untuk menjadi seorang yang TERBAIK pada apapun yang anda kerjakan.
Sesuatu yang besar sudah di depan anda, melangkah sedikit dan ambillah segera…






0 komentar:
Post a Comment