Wednesday, September 1, 2010

SEKOLAH = TEMPAT PENYIKSAAN

Anda pernah merasakan begitu capeknya menjalani hari-hari di sekolah/kampus?
Atau lelah mendengar omelan orang tua anda ketika mendapat nilai yang buruk?
Sudah jatuh tertimpa tangga pula… kasian sekali anda.. hehehe


Saya sangat prihatin dengan pendidikan yang ada di Indonesia sekarang ini. Betapa tidak, teknik pembelajaran yang diterapkan sejauh ini jauh dari sifat manusiawi. Bayangkan saja seorang anak yang baru masuk SD sudah dibebani dengan 7-9 mata pelajaran dan guru sama sekali tidak peduli dengan kemampuan dari anak tersebut. Belum lagi tuntutan-tuntutan yang diberikan kepada anak, harus mendapat nilai yang baik, punya soft skill, dll. Pantas saja, banyak orang yang akhirnya membenci sekolah dan sangat sulit merasa bahagia menjalani hidupnya.

Sekarang anda bisa hitung jika seseorang diwajibkan belajar 12 tahun, kemudian jika mampu ditambah 3-4 tahun untuk kuliah di perguruan tinggi. Sudah 15 tahun orang menghabiskan umurnya di sekolah. Itu artinya rata-rata seseorang menghabiskan 15 tahun masa hidupnya untuk hidup TERTEKAN, BOSAN, DAN TERSIKSA. Bagaimana dengan anda yang berpikiran sekolah lagi??

Sekolah. Adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu schola dimana artinya adalah waktu luang. Dan sejatinya, waktu luang itu digunakan untuk bersenang-senang, bukan untuk BELAJAR. Tapi ternyata, sistem pendidikan di Indonesia kurang begitu memahami arti kata sekolah yang sebenarnya. Sistem di Indonesia mengkondisikan pembelajaran yang membosankan, kurang menghargai proses yang dilalui dan menjadikan nilai sebagai tolak ukur.

Berikut ini adalah arti nilai di sekolah menurut versi saya
10 / A  = Hidup kaya raya
9 / AB  = Menantu idaman
8 / B     = Hidup sederhana
7 / BC  = Makan seadanya
6 / C    = Hutang dimana-mana
5 / D    = Diusir dari rumah
4 / E     = Neraka..???
3,2,1    = ……. (isi sendiri untuk bayangan hidup yang lebih kelam)

Begitulah anggapan seseorang dan orang tua saat melihat nilai. Bayangan hidup sejahtera ketika mendapat nilai A dan bayangan hidup tidak berguna ketika mendapat E. Ah, sempit sekali dunia ini kalau hidup ditentukan nilai…betul?
Itulah kenapa saya sering menyebut nilai di sekolah adalah NILAI IMAJINER.
Semua hanya bayangan, bukan kenyataan.

Lalu apa nilai yang sesungguhnya?
Yah, CHARACTER BUILDING atau bisa juga disebut personal branding.
Adalah bagaimana cara memanusiakan manusia itu sendiri. Tiap orang diciptakan dengan keunikan masing-masing (individual differences) dengan membawa segala kelebihan dan kekurangan untuk dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi dirinya.
Dan seharusnya sekolah bisa menjadi tempat untuk memfasilitasi seseorang mengeluarkan potensi dalam dirinya, bukannya malah membatasi seperti yang terjadi selama ini.

Oke, untuk membuktikannya saya akan tunjukkan kepada anda 4 DOSA BESAR SEKOLAH..
  1. Menerapkan ujian dengan waktu terbatas yang sifatnya untuk mengetahui kecepatan mengingat sebuah materi. Pertanyaannya. Apakah anda pernah diajarkan metode mengingat cepat oleh sekolah atau kampus anda..?
  1. Sistem ujian closed book yang asumsinya bahwa kemampuan mengingat suatu pengetahuan jauh lebih berharga dari pada kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Dalam taksonomi bloom, ini adalah cara berpikir paling rendah. Padahal Tuhan telah memberikan kemampuan otak yang bisa digunakan lebih dari itu (analisa, sintesa, dan evaluasi)
  1. Jawaban tidak sesuai dengan kunci guru / dosen = SALAH TOTAL. Ini membuat anda tidak bisa berpikir bebas atau kreatif walaupun inti jawabannya sama yang akhirnya membuat anda tidak berani mencoba hal baru dalam hidup.
  1. Tolak ukur adalah nilai. Bukan proses yang dijalani. Tidak peduli seberapa keras anda berusaha belajar mati-matian, menghafal materi ini itu. Kalau nilai anda buruk. Selamat tinggal…

Hidup ini tidak sesempit nilai yang anda dapatkan di sekolah saudara. Saya hanya ingin mengingatkan kepada anda bahwa Einstein memilih untuk tidur di kelas dan bereksperimen sesuai keinginannya di luar lalu akhirnya menjadi penemu hebat sampai saat ini.
Bill Gates rela di DO dari kuliahnya hanya untuk menuruti hobinya mengutak-atik komputer yang membuatnya menjadi dermawan terbesar di dunia. Dan, Hendy Setiyono mengundurkan diri dari Teknik Informatika ITS demi mendorong gerobak Kebab Turki yang akhirnya sekarang menggurita dimana-mana.

Saya bukan menyarankan anda untuk keluar dari sekolah. Kalau anda bisa bersekolah sampai saat ini, bagus, syukurilah karena begitu banyak orang di luar sana yang menginginkan kursi anda tapi belum memiliki kesempatan. Tapi saya juga mengingatkan bahwa kemampuan anda jauh lebih hebat daripada sekedar nilai yang ditentukan sekolah untuk anda. Artinya, berkreasilah sesuai keinginan anda dan kenalilah diri anda sebaik-baiknya. Anda menjadi kurang kreatif, kurang percaya diri karena sekolah yang membuat seperti ini.

Saya yakin jika anda diberi pilihan belajar atau senang-senang pastinya anda akan memilih yang kedua. Jadi intinya adalah ikuti apa yang menjadi keinginan anda, ambil makna dari apa yang anda lakukan, dan anda akan mengambil hasil dari sana. Tetap fokus dengan passion anda saat ini lalu jalanilah sepenuh hati.

Nilai di sekolah bukan penentu kehidupan anda. PERCAYALAH…!!! 


Andhika Chandra, CH., CHt
Mind Manipulator & Founder of Hypnofun Education Method

0 komentar:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More