Alkisah dalam sebuah keluarga, hiduplah seorang nenek yang sudah SANGAT tua. Nenek ini tinggal bersama puterinya, yang kini sudah menjadi ibu, dengan menantu dan kedua cucunya.
Sang nenek dan keluarganya selalu makan bersama- sama. Namun karena usianya, mata sang nenek sudah buram, dan tangannya gemetaran. Ketika makan bersama, ia menjadi berisik dan sangat mengganggu. Nasi bertebaran, sendok terjatuh, dan susu tumpah ke taplak meja. Hal- hal inipun terus menerus terjadi SETIAP jam makan.
Akhirnya, karena tidak tahan lagi, puteri sang nenek bersama suaminya, menyiapkan sebuah meja kecil yang terpisah dari meja utama, dan diletakkan di pojok ruangan. Jadi ketika keluarga lainnya makan di meja utama, sang nenek akan makan SENDIRIAN di meja khususnya di pojok ruangan, menggunakan sebuah mangkuk kayu, agar tidak dapat pecah.
Begitulah kemudian mereka melewati hari- hari mereka, dengan sang nenek makan sendirian di mejanya, dengan bunyi mangkuk kayu jatuh yang sekali- sekali terdengar.
Pada suatu hari, sang cucu BERTANYA pada ibunya, “Ibu, mengapa nenek makan menggunakan mangkuk kayu, mengapa ia tidak memakai piring seperti kita?” Ibunya pun menjelaskan, “Nenek sudah tua, jadi supaya tidak memecahkan piring, ia HARUS memakai mangkuk kayu.” Si anak pun mengangguk tanda mengerti. Esoknya, ia melihat anaknya sedang SERIUS diam di pojok ruangan. Ia pun mendekati sang anak. “Sayang, apa yang sedang kamu buat?” Tanya ibunya. Anak tersebut tersenyum dengan polos, dan mengatakan, “Saya sedang membuat mangkuk kayu untuk ibu, agar kalau ibu sudah tua nanti, ibu dapat makan dari mangkuk kayu ini. Sama seperti nenek…”
Kalimat si anak mengejutkan hati si ibu. Apa yang sudah ia lakukan? Bagaimana ia dapat MELAKUKAN itu terhadap seseorang yang dulu membesarkannya, menyuapinya, dan mengajarinya makan di meja makan. Memberinya keluarga, dan mengajarkan nilai- nilai keluarga. Dan lebih mengerikan lagi, apa yang tanpa sadar telah ia ajarkan pada puterinya?
Akhirnya, meja kecil di pojok ruangan itu pun dikeluarkan. Sang nenek kembali makan bersama keluarganya, dan menggunakan piring beling yang sama dengan keluarganya yang lain. Tidak perduli bagaimana kotornya dan berisiknya si nenek ketika makan, itu semua cuma biaya kecil dibandingkan nilai keluarga dan kasih sayang yang dituangkan si nenek sepanjang hidupnya pada puterinya.
Lagipula, bukankah kita semua juga berantakan, menumpahkan susu, dan memecahkan piring ketika kita masih kecil?
Sahabat, sudah saatnya kita semua memberikan yang terbaik dari apa yang kita punya kepada orang tua kita sebelum semuanya terlambat. Orang tua ibarat lilin yang suatu saat akan padam. Apakah anda siap kehilangan mereka beserta cahayanya?
Mari, kita berikan sebuah senyuman dan perhatian kecil untuk mereka
…kita menjadi LUAR BIASA karena MEREKA.. sayangi orang tua kita J






3 komentar:
kenaaaaaa banged ka,,,
Subhanallah,,
rasax bru mengerti dg kalimat
"tidak semua yg dpt d hitung itu penting, dan tidak semua hal penting dapat dihitung".
Syukron. . .
i like it, tq
Post a Comment